Aku hidup di sebuah zaman yang tak dapat kau mengerti. Dimana di
zaman ini kebencian adalah hal yang lumrah, impian dan kegembiraan
adalah hal - hal yang mustahil untuk dicapai dan menjadi hal yang
langkah. Media masa seolah memprovokasikan jiwa-jiwa nasionalisme di
hati setiap bangsaku. Politik dan uang menjadi makanan sehari-hari,
menjadi hal untuk menggapai impian.Para pemimpin dan pengusaha
mempermainkan kami dengan bujuk rayu yang tak akan pernah mereka
kabulkan. kami hanyalah alat untuk mereka, menjadi pion-pion yang akan
mereka korbankan dengan sesuka hati. dimanakah hati nurani mereka?
Pejuangku
terdahulu memerdekakan bangsa ini, merebut negeri ini hanya untuk satu
hal yaitu kegembiraan untuk para generasi mereka, agar mereka hidup
gembira dan dapat menggapai sesuatu yang disebut impian mereka. Namun,
di zamanku para orang-orang yang disebut pahlawan malah memprovokasikan
kami agar kami menuai semua kebencian dan amarah di dalam hati kami.
ideologi atau pandangan hidup kami diubah menjadi suatu mata rantai
kebencian yang tak akan pernah putus dari waktu ke waktu.
Di
zamanku impian dan cita-cita adalah hal mustahil untuk digapai jika
kita tak punya uang dan tameng pelindung untuk mengangkat mereka. aku
bukan sembarangan berbicara, tapi apa yang kukatakan berdasarkan fakta
dan pemikiranku sendiri. lihatlah tes PNS, semua orang berlomba-lomba
untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Tapi, ketika kulihat praktik
dilapangan, kolusi dan nepotisme malah terjadi di negeri ini dan menjadi
hal biasa. mereka menyogok para petinggi dan panitia, hanya sedikit
yang memperoleh usaha dari hasil kejujuran.
Semua orang
meneriakan kata-kata untuk menghentikan KKN. mereka membenci KKN. tapi
itu hanyalah sekedar teori, di dalam praktik semua yang menyangkut di
negeri ini adalah KKN. korupsi merajalela, merampok dan mematenkan hak
milik mereka seolah mereka dapat menyogok malaikat Izrail atau menyogok
malaikat Ridwan untuk masuk ke dalam surga.
Kolusi dan nepotisme
menjadi hal yang biasa, bukan sesuatu yang aneh. dan semuanya itu terus
berjalan dari masa ke masa.
Aku percaya suatu
saat aku ingin mengubah negeri ini, aku ingin mengubah pandanagn semua
orang yang telah dibutakan oleh uang dan menjadi budak harta. Aku
percaya akan mimpi-mimpiku, aku hanyalah anak kecil yang tak mengerti
permasalahan rumit orang dewasa yang mengutamakan harga diri dan
keuntungan semata.
Tanganku hanya dua dan kakiku hanya
dua, aku tidak punya harta dan tidak punya kekuasaan. tapi aku punya
mimpi yang akan mengubah semuanya. kan kukejar mimpiku dengan kedua
kakiku meski aku harus jatuh berkali-kali, kan kuraih mimpiku denagn
kedua tanganku. Saat aku mengutarakan impianku kepada semua orang,
mereka menertawakanku dan mengatakan semuanya mustahil jika kita tak
punya uang, mereka malah menakdirkan diriku untuk menjadi apa yang
mereka impikan. Tapi, aku percaya akan ada suatu masa yang penuh
kedamaian, dimana uang bukan untuk segalanya, dimana politik bukan alat
untuk menggapai impian, dimana harga diri bangsa bukan untuk
diprovokasikan untuk menuai kebencian...
Sayangnya, di
negeriku. para koruptor seolah dipuja-puja bagaikan pahlawan, padahal
mereka telah merampok harta rakyat. Lihatlah Nurdin Halid, seorang korup
yang dipuja bagai pahlawan meski dia terkurung dalam jerali besi.
sadarkah kalian wahai para koruptor tentang kemunafikan diri kalian?
Sadarkah kalian tidak akan bisa menyogok malaikat Malik sang penjaga
neraka agar kalian bisa mendapatkan neraka dengan fasilitas VIV, seperti
kalian menyogok para sipir penjara di dunia.
Aku dan
kamu adalah korban dari para pemimpin kita sekarang yang telah meracuni
pikiran kita, membuat kita terlena akan janji yang tak pernah pasti.
Moral di negeriku rusak, kedamaian menjadi omong kosong, para pemimpin
kami sedang tertawa sambil memegang perutnya yang kenyang, rakyat miskin
di negeriku sedang menangis seraya mengadahkan tanagn mereka..
Ini
hanyalah catatan dari sang pemimpi. Ini hanyalah pandangan hidup
seorang anak kecil yang tak punya apa-apa, namun aku percaya suatu saat
dan suatu masa aku akan mengubah negeriku bersama dengan generasi
penerusku.
29 Desember 2010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar