Kamis, 09 Februari 2012

Realita negeriku

Aku hidup di sebuah zaman yang tak dapat kau mengerti. Dimana di zaman ini kebencian adalah hal yang lumrah, impian  dan kegembiraan adalah hal - hal yang mustahil untuk dicapai dan menjadi hal yang langkah. Media masa seolah memprovokasikan jiwa-jiwa nasionalisme di hati setiap bangsaku. Politik dan uang menjadi makanan sehari-hari, menjadi hal untuk menggapai impian.Para pemimpin dan pengusaha mempermainkan kami dengan bujuk rayu yang tak akan pernah mereka kabulkan. kami hanyalah alat untuk mereka, menjadi pion-pion yang akan mereka korbankan dengan sesuka hati. dimanakah hati nurani mereka?

Pejuangku terdahulu memerdekakan bangsa ini, merebut negeri ini hanya untuk satu hal yaitu kegembiraan untuk para generasi mereka, agar mereka hidup gembira dan dapat menggapai sesuatu yang disebut impian mereka. Namun, di zamanku para orang-orang yang disebut pahlawan malah memprovokasikan kami agar kami menuai semua kebencian dan amarah di dalam hati kami. ideologi atau pandangan hidup kami diubah menjadi suatu mata rantai kebencian yang tak akan pernah putus dari waktu ke waktu.

Di zamanku impian dan cita-cita adalah hal mustahil untuk digapai jika kita tak punya uang dan tameng pelindung untuk mengangkat mereka. aku bukan sembarangan berbicara, tapi apa yang kukatakan berdasarkan fakta dan pemikiranku sendiri. lihatlah tes PNS, semua orang berlomba-lomba untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Tapi, ketika kulihat praktik dilapangan, kolusi dan nepotisme malah terjadi di negeri ini dan menjadi hal biasa. mereka menyogok para petinggi dan panitia, hanya sedikit yang memperoleh usaha dari hasil kejujuran.

Semua orang meneriakan kata-kata untuk menghentikan KKN. mereka membenci KKN. tapi itu hanyalah sekedar teori, di dalam praktik semua  yang menyangkut di negeri ini adalah KKN. korupsi merajalela, merampok dan mematenkan hak milik mereka seolah mereka dapat menyogok malaikat Izrail atau menyogok malaikat Ridwan untuk masuk ke dalam surga.
Kolusi dan nepotisme menjadi hal yang biasa, bukan sesuatu yang aneh. dan semuanya itu terus berjalan dari masa ke masa.         

Aku percaya suatu saat aku ingin mengubah negeri ini, aku ingin mengubah pandanagn semua orang yang telah dibutakan oleh uang dan menjadi budak harta. Aku percaya akan mimpi-mimpiku, aku hanyalah anak kecil yang tak mengerti permasalahan rumit orang dewasa yang mengutamakan harga diri dan keuntungan semata.

Tanganku hanya dua dan kakiku hanya dua, aku tidak punya harta dan tidak punya kekuasaan. tapi aku punya mimpi yang akan mengubah semuanya. kan kukejar mimpiku dengan kedua kakiku meski aku harus jatuh berkali-kali, kan kuraih mimpiku denagn kedua tanganku. Saat aku mengutarakan impianku kepada semua orang, mereka menertawakanku dan mengatakan semuanya mustahil jika kita tak punya uang, mereka malah menakdirkan diriku untuk menjadi apa yang mereka impikan. Tapi, aku percaya akan ada suatu masa yang penuh kedamaian, dimana uang bukan untuk segalanya, dimana politik bukan alat untuk menggapai impian, dimana harga diri bangsa bukan untuk diprovokasikan untuk menuai kebencian...

Sayangnya, di negeriku. para koruptor seolah dipuja-puja bagaikan pahlawan, padahal mereka telah merampok harta rakyat. Lihatlah Nurdin Halid, seorang korup yang dipuja bagai pahlawan meski dia terkurung dalam jerali besi. sadarkah kalian wahai para koruptor tentang kemunafikan diri kalian? Sadarkah kalian tidak akan bisa menyogok malaikat Malik sang penjaga neraka agar kalian bisa mendapatkan neraka dengan fasilitas VIV, seperti kalian menyogok para sipir penjara di dunia.

Aku dan kamu adalah korban dari para pemimpin kita sekarang yang telah meracuni pikiran kita, membuat kita terlena akan janji yang tak pernah pasti. Moral di negeriku rusak, kedamaian menjadi omong kosong, para pemimpin kami sedang tertawa sambil memegang perutnya yang kenyang, rakyat miskin di negeriku sedang menangis seraya mengadahkan tanagn mereka..

Ini hanyalah catatan dari sang pemimpi. Ini hanyalah pandangan hidup seorang anak kecil yang tak punya apa-apa, namun aku percaya suatu saat dan suatu masa aku akan mengubah negeriku bersama dengan generasi penerusku.


29 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar